Rabu, 10 November 2010

Danau Toba Penyebab Zaman Es

Beberapa tahun lalu sekelompok peneliti dibawah pimpinan Greg Zielinski, peneliti dari Universitas New Hampshire, Amerika, melakukan penelitian di Greenland, Kutub Utara. Tim Zielinski mempelajari umur lapisan es yang terbentuk di kutub. Dari penelitian itu, mereka mendapati pola perubahan temperatur es bumi secara global dalam kurun waktu yang cukup lama. Yang mengejutkan mereka dari penelitian itu adalah, pada suatu saat sekitar 74.000 tahun lalu, ada lonjakan besar kandungan sulfat di atmosfer, yang mengakibatkan terjadinya penurunan temperatur bumi secara drastis.

Lonjakan penurunan itu terjadi hampir 40 kali dari kondisi normal. Dari informasi itu mereka memperkirakan bahwa ada kejadian global yang menjadikan kandungan sulfat di atmosfir sangat besar sampai kurang lebih 2-4 ribu megaton H2SO4 (asam sulfat) di atmosfir. Kejadian global yang dahsyat itu membentuk awan kuning yang menutupi hampir seluruh permukaan bumi, menjadikan sinar matahari tidak bisa menembus permukaan bumi. Dan akhirnya terjadi penurunan temperatur bumi. Pada saat yang sama mahluk hidup, binatang dan tumbuhan mati. Tim Zielinski bertanya-tanya kejadian apa pada 74.000 tahun lalu, dan dimana terjadinya di bumi.

Ditempat lain, Michael Rampino seorang ahli geologi dari University of New York, meneliti temperatur bumi dari kondisi geologis tanah. Dia meneliti pola temperatur sejak ribuan tahun yang lalu berdasarkan material geologi. Dari penelitian itu ia mendapati, pada suatu saat, ada penurunan temperatur bumi sebesar 5 derajat celcius dalam beberapa tahun. Dalam keadaan normal, penurunan temperatur sebesar itu terjadi dalam kurun waktu ribuan tahun. Dari data ini ia menyimpulkan bahwa ada kejadian dahsyat luar biasa yang menyebabkan terjadinya penurunan temperatur secara luar biasa.

Lalu Michael Rampino menghitung kapan peristiwa luar biasa itu terjadi, dan ia sampai pada suatu angka, bahwa terjadi ledakan super dahsyat pada 74.000 tahun lalu. Pertanyaan selanjutnya adalah ledakan apa yang sedemikian dahsyat di bumi dan dimana persisnya kejadiannya.

Baik Greg Zielinski dan Michael Rampino, sampai pada suatu pertanyaan yang sama, dimana ledakan super dahsyat 74.000 tahun lalu itu.

Seorang ahli vulkanologi di Universitas Toronto, Canada, John Westgate, dia adalah ahli yang bisa menentukan dari mana asal suatu material vulkanik. Ketika dalam bagian penelitiannya, ia mendapatkan material vulkanik dari Eropa, tapi ia menemukan bahwa material vulkanik yang sangat berbeda dari apa yang dia ketahui di Eropa. Maka ia mencoba mencocokkan apakah material itu berasal dari pegunungan Laki di Eropa, ternyata setelah diteliti, material itu tidak dari Gunung Laki.

Sementara itu seorang ahli lain, Craig Chesner, sedang melakukan penelitian di sekitar Danau Toba. Ia terheran-heran dengan bentuk danau dan kedalaman air di danau. Ia kemudian menemukan lapisan debu vulkanik yang sangat tebal di bukit-bukit sekitar Danau Toba. Chesner kemudian mengirimkan contoh debu vulkanik tersebut kepada John Westgate di Toronto.

John Westgate, meneliti debu vulkanik kiriman Chesner, dan ternyata sama dengan yang dia teliti dari Eropa. Pertanyaan Rampino dan pertanyaan Zielinski, ternyata mengarah pada temuan John Westgate. Telah terjadi ledakan super dahsyat 74.000 tahun lalu di Sumatera, tepatnya di lokasi Danau Toba sekarang, sebagaimana temuan Chesner.

Ledakan itu sedemikian dahsyat sehingga debunya mencapai Afrika dan daratan Cina serta Eropa. Diperkirakan material vulkanik yang dimuntahkan dari Toba lebih dari 2.000 km kubik magma. Ini lebih dari 4.000 kali jumlah yang dikeluarkan oleh Gunung Pinatubo di Philippina tahun 1991. Tinggi awan debu Toba diperkirakan lebih dari 50 kilometer. Ledakan Toba diperkirakan mengakibatkan kematian yang luar biasa di kawasan Asia Tenggara.

Begitulah kejadian terbentuknya Danau Toba. Sampai sekarang, tidak ada ledakan yang melebihi ledakan Danau Toba 74.000 tahun lalu.

Konon siklus ledakan vulkanik Toba, bisa terjadi sekali dalam 400.000 tahun, jadi kira-kira 326.000 tahun dari sekarang. Kalau ledakan sedahsyat 74.000 tahun lalu di Toba terjadi sekarang, maka diperkirakan 50 persen penduduk Asia mungkin akan mati terbunuh secara langsung dan tidak langsung.

Ditulis berdasarkan tayangan televisi National Geographic.

Rudal Melayang Saat Obama Pergi

Meski obyek belum diketahui jelas, dipastikan tidak ada indikasi ancaman terhadap AS.


Benda diduga UFO atau misil melayang di udara (nationalufocenter.com)
Sebuah helikopter KCBS news mendapati benda yang diduga sebuah misil atau rudal yang melintasi langit di sekitar barat laut pulau Catalina, atau sekitar 35 mil arah barat Los Angeles.

Video yang diposting di Internet oleh stasiun televisi itu menunjukkan sebuah titik bercahaya menjelajah langit diikuti oleh asap panjang di belakangnya.

Selasa, 9 November 2010, juru bicara dari Departemen Pertahanan, Angkatan Laut dan Angkatan Udara AS menyatakan, mereka belum mendapatkan informasi detail seputar objek ataupun lokasi peluncurannya. Juru bicara Pentagon menyebutkan, belum ada indikasi keterlibatan militer pada insiden ini.

“Kami mengetahui adanya obyek di lepas pantai selatan California,” sebut pernyataan resmi North American Aerospace Defense Command dan US Northern Command yang mengoperasikan sistem peringatan misil Amerika dan Kanada.

Saat ini, seperti dikutip dari LA Times, 10 November 2010, pihak yang berwenang sedang berusaha mengungkap kasus itu.
“Yang bisa kami pastikan adalah tidak ada indikasi adanya ancaman terhadap negeri ini dan kami akan menyediakan lebih banyak informasi segera setelah informasi kami dapatkan,” sebut pernyataan itu.

Teri Reid, juru bicara Naval Base Ventura County menyatakan, asap yang terlihat di Pantai California Selatan itu juga bukan berasal dari Naval Air Station Point Mugu. “Bukan dari sini. Tidak ada peluncuran di kawasan ini,” ucapnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh juru bicara Vandenberg Air Force Base. Disebutkan, terakhir kali, fasilitas mereka melakukan peluncuran adalah peluncuran satelit ke orbit pada Jumat, pekan lalu

Calibration & Validation

Kalibrasi : Mencari nilai normal
Validasi  : Pembenaran (Klaim Data Benar)

- Pendahuluan
- Type of Calibration (Ground calibration, Onboard calibration)
- Calibration Level (Interband kalibrasi, band to band kalibrasi)
- Type of Validation (Spesifikasi Instrumen, Kuantitas Fisik, Partical validation)
- Ground data (Information about object / Lingkungan Sekitar Objek, Information
   about Environment)
- Image Interpretation (Interpretation)

Kalibrasi : untuk mencari Nilai dari keseluruhan (sebarannya)
Validasi  : Keabsahan data (pembesaran data) dengan cek lapangan
Interband : antarband
Band to band : satu-satu
Spesifikasi Instrumen : perbandingan antara GPS yang bagus dan jelek (Jika
                                  Instrumen bagus maka validasi bagus dan tingkat kesalahan
                                  rendah, begitu juga sebaliknya Jika instrumen jelek maka
                                  validasi juga jelek dan tingkat kesalahan juga lebih banyak)
Kuantitas Fisik : Banyak data (data harus banyak)
Partical Usager (pengguna) : Validasi tergantung orang yang menggunakan jadi
                                            pengguna akan lebih bisa memvalidasi.
Interpretation : menterjemahkan objek / data / citra (air, laut, daratan, pemukiman)
RMS : Root Means Square